Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Jangan mencari hidup di Muhammadiyah

Minggu, 23 Juni 2013

Persimpangan



Aku berada di persimpangan, persimpangan jalan dimana aku harus mengejar atau menghampiri. Mengejar mimpi yang tengah berlari, atau menghampiri yang telah menunggu. Ketika aku memilih untuk menghampiri, aku tidak yakin dengan mimpi itu. Ketika aku ingin mengejar, mana aku mampu mengejar mimpi yang sedang berlari? Tapi, bukankah ketika mimpi itu diibaratkan dengan seseorang, ketika seseorang itu berlari, mustahil dia tidak lelah, pasti dia akan berhenti dari larinya dan beristirahat, mungkin pada saat itu aku akan mulai menghampirinya, membawa apa yang dia butuhkan dan membuatnya nyaman.  Dan akhirnya aku memilih untuk diam di pertengahan simpangan itu.


Aku masih tidak tau apa yang terjadi dengan perasaanku, aku juga tidak faham dengan hubungan mereka. Semakin hari semakin terlihat, ‘terpampang nyata’. Sudah berulang kali aku mencoba untuk bersembunyi, aku mencoba meyakinkan perasaanku. Entah ini perasaan yang seperti apa? Yang jelas aku sakit, aku sedih. Tapi, bukankah yang aku ingin adalah senyumu? Meskipun senyum itu bukan dariku,, yang terpenting adalah kamu tersenyum. 

Aku fikir itu sudah membuatku senang. Tapi sepertinya ada yang mulai berontak dalam hatiku, ada yang mulai mengatakan hal lain, yang berbeda dari apa yang aku ungkapkan dengan mulutku tadi.

Aku iri dengan mereka,, aku juga ingin membuatmu tersenyum karena ‘AKU’. Tapi,, sepertinya aku yang ingin membuatmu tersenyum ini tersingkir oleh orang-orang yang mungkin sengaja atau tidak, telah mencuri start untuk lebih dulu membuatmu tersenyum. Baiklah, biarkan aku disini. Memandang kamu tersenyum dan tertawa dari jauh. Mungkin itu lebih baik, ya,,,, mungkin lebih baik.

3 komentar:

  1. Semudah itu kah ? kenapa menyerah dini sekali? :)

    BalasHapus
  2. iya memang itu yang lebih baik... ini bukan perihal menyerah atau apa,, tapi tentang lebih menghargai orang lain :)

    BalasHapus