di suatu senja cinta berbisik padaku, "lihatlah kekasihmu! kali ini dia
tengah rapuh dengan segala polemik yang menimpanya. bergegaslah
kepadanya, dan sediakan bahumu sebagai tempat bersandar paling kokoh
untuknya, lalu berikanlah hatimu sebagai bejana untuk menampung butir
bening air matanya, karena hanya itu yang ia butuhkan saat ini."
kurasakan hening perjalanan lambat
diantara keterdiamanku. lalu aku
merasakan haiku bergetar hebat setelah matahari hampir tenggelam di ufuk
barat.
"cepatlah kau temui kekasihmu, atau kau tak akan mendapatinya esok hari" seri cinta kepadaku
tanpa menungg lebih lama, aku segera bergegas menemui kekasihku.
setibaku ditempatnya, aku mendapati dirinya tengah duduk bersimpuh di
pekarangan rumah, di depan kuntum bunga yang layu.
"apa yang sedang terjadi padamu?" ucapku seraya merangkul dan menyandarkan kepalanya diahuku.
"perpisahan telah merenggut kebahagiaanku. ia telah mengambil kedua
orangtuaku beberapa waktu lalu, sebelum kau hadir dalam kehidupanku.
kali ini kenangan tentang mereka kembali menyeruak dalam kehidupanku
hingga kesedihan itu tumbuhkan air mataku, kini aku sendiri dan harus
menapaki hari-hariku dg kesendirianku" ucapnya
"bukankah telah ada aku di sisimu?"
" kau memang telah disisiku, aku sedih karena aku tak ingin kehilangan untuk kesekian kalinya"
kulihat matahari tinggal separuh di ufuk barat.
"bersiaplah, sebab mulai esok pagi, aku akan berada disisimu, menjadi
pendamping hidupmu unuk selamana. karena kini tak ada lagi keraguan
membelenggu hatiku atas cintaku padamu"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar